Tuesday, August 07, 2012

May God always be with Mei

Rindu memang bisa menyesakan dada, membuat air mata berlinang dan membuat pikiran tak karuan.

Ya, aku memang melankolis kalau dalam hal rindu merindu dan enggan membuang rasa itu cepat. Aku merindukan mereka, setiap pasang mata yang memandangku penuh sayang bersama lengkungan manis senyum mereka yang kontras menampilkan gigi putih dan kulit sawo matang. Rambut keriting dan binar mata mata malu-malu tapi ingin tahu kian terlintas dalam benakku. Belum lagi suara mereka yang kian memanggilku "Ibuuu" membuat hati ingin bertemu, kembali pulang ke Siboru.

Rinduku membuatku kembali membuka catatan perjalanan yang kutulis selama di sana. Ya, setidaknya mengobati rindu. Kutemukan sebuah catatan tentang Mei, gadis manis yang sayangnya bernasib kurang beruntung. Inilah kisahnya:


April 2012

Mei namanya, malaikat kecil berusia 11 bulan. Bulan depan usianya genap satu tahun, tapi miris melihat keadaannya.

Kaki Mei dipenuhi bintik-bintik merah, ada yang sudah terkupas dan berdarah, ada pula yang masih mentul berisi air di dalamnya. Kepalanya dipenuhi bisul, termasuk satu buah di pelupuk mata kirinya.

Berkali-kali ia menangis, memberi isyarat atas ketidaknyamanan yang ia rasakan Merengek meminta digendong, seakan rindu belai kasih sayang seorang ibu.

Saat ku gendong, terasa ada yang salah dengan paru-parunya. Dua keping alat pernapasan itu berbunyi, seperti terendam cairan yang membuat napas gadis kecil itu tersengal-sengal. Iba menyelimutiku, merinding dan perih rasanya melihat anak manusi di sia-sia. Salah apakah dia sampai ditelantarkan di dunia.

Mei adalah bungsu dari 7 bersaudara. Dua kakaknya yang berumur 16 dan 14 tahun tinggal di Sorong, 4 orang lainnya tinggal di desa Siboru bersama pamannya. Desa kecil tempatku mengabdi setahun kemarin. Sedangkan Mei, tak jelas nasibnya, dioper dari satu rumah ke rumah lainnya. Bila salah seorang dari paman atau bibinya sudah lelah menjaga, maka ia akan diungsikan ke keluarga lain. Sampai hari ini, ia sudah menjajaki 6 keluarga.


Pertama kali aku melihatnya adalah di rumah ayah angkatku, saat itu usianya enam bulan dan baru saja datang dari Sorong. Ia terkulai lemah dalam gendongan Milka, salah satu bibinya. Bahkan saat itu mengangkat kepala pun ia tidak mampu. Kini setelah berpindah enam kali, ia tak lagi diberi susu, hanya air putih yang terisi di botol itu.

Sejak lahir Mei sudah ditolah ibu kandungnya> Ibunya tidak mau gurusnya, tidak mau merawat atau menggendongnya, apalagi menyusuinya. Ironisnya semua ini hanya karena mahar yang belum dibayar. Sangibu merasa bahwa ayah mereka belum memenuhi kewajiban dan hutangnya sehingga ia pun tak berkewajiban memebesarkan anaknya. Mau melahirkannya saja sudah bagus!

Ayahnya adalah seorang guru yang bertugas di Sorong, tetapi kini ikut sang istri menetap di Pikpik-Fakfak (sebuah desa di daerah pegunungan). Entah apa yang dipikirkannya hingga seperti 'menutup mata' akan kondisi anak-anaknya.

Aku hanya mampu memandang badan ringkih itu, seandainya aku mampu dan bersuami, ingin rasanya membawa Mei pulang ke Jakarta. Mengasuhnya dan memberi kasih sayang yang ia minta. Namun lagi-lagi aku aku hanya bisa terdiam, tanpa mampu berbuat apapun. HAnya memeluknya membisu.

Sebenarnya aku benci rasa in, ketika aku tak tega tp tak bisa berbuat apa-apa. Menumpulkan hati dan menulikan telinga.

2 comments:

Moonlight said...

Never underestimated the power of 'prayer' ^^. Yuk kita berdoa sama-sama buat Mei. For her better life and also her family. Amin. Hehehe

ika said...

Amen to that dear :)