Tuesday, September 20, 2011

yuu dukung mereka mencintai jendela dunia




Layaknya orang yang terhipnotis, puluhan pasang mata itu memperhatikan tanpa berkedip. Lalu dengan lantang kutanya, “siapa yang mau baca buku?” kontan, bemunculan jari-jari telunjuk yg tak sabar mendapat buku.



Sabtu pagi yang cerah, selesai melaksanakan kerja bakti di sekolah, bersama muridku, kami melaksanakan “cuci perpustakaan.” Perlahan ku buka pintu ruangan yang telah lama terkunci itu, kupandangi ruangan kosong berdebu yang dipenuhi serbuk - serbukkayu di setiap sudutnya. Meja dan kursi berjajar memanjang di kiri kanan ruangan dan di tengahnya terdapat sebuah lemari kaca yang bagus. Sayangnya atap dan kusen-kusen jendela perpustakaan kami sudah lapuk dan dipenuhi rayap, sehingga serbuk kayu terus berhamburan di meja dan lantainya.



Lemari kaca itu sangat menyita perhatianku, di sanalah satu-satunya tempat menyimpan “harta karun” kami. Tak sabar, aku melangkah cepat ke arahnya dan memandangi tumpukan-tumpukan buku di dalamnya. Segian besar adalah buku bacaan untuk guru, buku-buku panduan bagi para guru agar metode pengajarannya menjadi lebih menarik. Sedangkan buku – buku bacaan anak hanya sedikit, sekitar 5 jenis buku ensiklopedia yang masing-masing berjumlah 2, yaitu seri Mamalia, burung, ruang angkasa, tanaman genetic dan dinosaurus. Semuanya masih dalam kondisi “perawan,” tersegel pertanda tak pernah dibaca.





Selesai membersihkan ruangan, aku minta izin pada Pak Kapisa untuk membuka lemari dan membagikan buku-buku itu untuk dibaca. Murid-muridku menatap isi lemari itu lekat-lekat, sangat antusias dan penuh rasa ingin tahu. Awalnya ku ambil sebuah buku ensiklopedia tentang mamalia dan membacanya seulas di hadapan mereka. K baca sambil ku praktekan teknik membaca read aloud yang pernah diajarkan bu Roosie dan Mas Ariyo. Layaknya orang yang terhipnotis, puluhan pasang mata itu memperhatikan tanpa berkedip.



Lalu dengan lantang kutanya, “siapa yang mau baca buku?” kontan, di hadapkanku bemunculan jari-jari telunjuk yg tak sabar mendapat buku. Mereka senang sekali mendapat buku bacaan dan langsung mengambil tempat masing-masing, baca, baca dan baca.



Dari dalam perpustakaan kami yang sederhana dan lapuk, terdengar suara anak-anakku yang sibuk mengeja kata. Suara yang bagiku amat merdu di Sabtu pagi yang cerah itu.



*Sayangnya di Fakfak belum ada toko buku, maukah kalian menyumbangkan buku-buku bekas layak pakai untuk anak-anakku? Kami akan senang sekali mendapat kumpulan cerita anak, kumpulan dongeng, buku kreatifitas, buku bahasa Inggris, buku resep, buku pengetahuan, atlas sekalipun atau apa saja yang bisa dibaca.



Donasi dapat disumbangkan melalui Indonesia Menyala, salah satu program ekstensi Indonesia Mengajar yang membidangi kepustakaan bagi daerah-daerah penempatan pengajar muda. Jangan lupa cantumkan nama desa dan kabupaten yang dituju, yaitu : Desa Siboru, Kabupaten Fakfak – Papua Barat. Kami tunggu donasi bukunya.

Sunday, August 28, 2011

Resep panjang umur..... *Ala Nenek Rosina*

10 Agustus 2011




Namanya Rosina, umurnya sekitar 100 tahun tapi sorot matanya masih cemerlang, masih lincah walaupun tungkai-tungkainya sedikit rapuh, pendengarannya sudah berkurang, tetapi ia fasih berbahasa Indonesia, senang bercerita dan senyum ramah selalu mengembang dari bibirnya yang merah (karena makan pinang).

Di rumah tempat tinggalku ada seorang nenek, ibu dari bapak piaraku. Nenek bernama Rosina atau biasa dipanggil Nenek Rosa. Menurut bapak-ku (yg berumur 74 tahun) saat ini usia nenek sudah 100 tahun lebih (tidak ada yg tahu berapa tahun tepatnya). Bapak adalah anak pertama, dimana sebelum nenek melahirkan bapak, ia telah mengangkat seorang anak. Nenek dan kakek mempunyai 7 anak kandung.



Suatu sore nan teduh, kami berdua bercerita. Ia bercerita bahwa ayahnya adalah orang pertama yang menyebarkan agama Katolik di Fakfak. Ayahnya merupakan missionaris awam yang bersama dengan pastur Belanda menyebarkan agama Katolik. Selama hidupnya nenek sempat mengalami beberapa kali perang, yang lekat diingatannya adalah perang melawan Belanda dan Jepang. Menurut nenek (Saksi hidup) pertama-tama Desa ini telah dikuasai Belanda. Belanda telah ada sejak nenek masih kecil, lalu terjadilah perang sehingga kedudukan digantikan oleh Jepang. Menurut nenek saat itu semua orang Belanda keluar dari Papua dan orang-orang China mengungsi ke gunung-gunung.



Semasa Jepang, pasukan Jepang menghancurkan gereja-gereja, lonceng-lonceng besar, rumah-rumah dan penduduk diminta menanam kebun. Ketika sudah dekat panen, pasukan Jepang mengawasi setiap hari dan membawa hasil panen mereka. Setelah beberapa bulan, terjadilah perang (nenek tidak menyebutkan antara siapa) dimana bom berjatuhan setiap hari dan banyak memakan korban. Hal ini membuat nenek dan sanak keluarganya mengungsi di gua-gua di kaki gunung. Setelah perang reda, mamanya membawa dia ke kampung Siboru ini. “Kalau malam gelap, tara ada yang berani keluar. Tinggal-tinggal terus… sampai perang reda. Mama ambil penggayung, bawa nenek turun ke sini.”





Nenek adalah sosok yang periang, menikmati hidupnya dan suka kebersihan. Meskipun sudah lanjut usia, nenek masih suka mencuci piring, menyapu dan menumbuk pinang. Ia paling senang menyapu rumah, sedikitnya 3 kali sehari nenek menyapu rumah (Ia akan sedih atau mengomel bila dilarang menyapu). Selain itu nenek sangat rapi menyimpan barang-barang. Di kamarnya semacam mini market yang berisi berbagai kaleng-kaleng dan belanga-belanga besar, dimana di dalamnya tersimpanan makanan dan perlengkapan dapur lainnya, mulai dari simpanan gula, beras, minyak, sabun cuci, teh, kopi, garam, biscuit dan lainnya. Ia dapat menyimpan sangat rapi sehingga simpanannya tidak dimakan tikus maupun semut. Setiap pagi dan sore, nenek akan duduk di dekat pintu, menumbuk pinang sambil melihat-lihat keluar. Ia senang mengamati orang yang lewat, menikmati bunyi laut di depannya dan mendengar suara burung yang berkicau dari belakang rumah.



Nenek sangat sayang padaku, Ia mengeluarkan bantal guling besar yang masih baru dan memberikannya padaku seraya berkata “Ibu pakai ini, ini punya nenek. Nenek pakai yang kecil, ibu pakai yang besar.” Aku sangat terharu saat itu karena di rumah itu ada banyak cucu dan anaknya tetapi nenek malah memberikannya padaku yang notabene baru berkenalan dengannya beberapa saat saja.




Nenek adalah sosok yang mengajarkanku bagaimana menikmati hidup ini; bekerjalah untuk memenuhi kebutuhanmu, menyimpanlah untuk masa susah (saving) dan sediakan waktu khusus untuk dirimu. Mungkin tiga hal ini adalah resep umur panjang seperti nenek .

Friday, August 19, 2011

Ketika Kibar Merah Putih Menyatukan Kami






Satu hal, yang membuatku mengharu biru. Ketika Indonesia Raya dinyanyikan dengan jelas dan lantang oleh semua muridku. “Akhirnya mereka hafal lagu kebangsaannya” Ujarku dalam hati.



16 Agustus 2011.

“Bu guru datang, bu guru datang” ujar salah satu muridku di YPK Siboru. Pagi itu, 16 Agustus 2011 boleh jadi hari yang dinantikan murid-muridku. Hari itu kami akan memperingati hari lahirnya bangsa Indonesia dengan upacara bendera dan berbagai kegiatan lomba. Meskipun duduk di bangku SD, upacara dan lomba adalah hal langka bagi murid-muridku. Alasan klise kekurangan guru sering kali menjadi tameng utama untuk melewatkan kegiatan semacam ini. Sehingga pagi itu mereka sangat antusias untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia.



Gerombolan seragam putih merah pun semakin jelas kulihat. Ada yang tersetrika rapi, ada pula yang lecek lusuh. Ada yang lengkap dengan sepatu, ada pula yang memakai sandal atau telanjang kaki. Maklumlah jalan di kampung masih berbatu dan bertanah lempung. Namun di balik semua atribut itu ada binar mata dan senyum ceria yang menantikan kibaran sang merah putih.



Upacara pagi itu berlangsung kurang sempurna, banyak kesalahan yang masih menjadi PR kami. Ya, saat itu memang kali perdana bagi murid-muridku melaksanakan upacara peringatan HUT kemerdekaan RI. Semoga upacara perdana ini menjadi awal yang baik bagi kami untuk terus berlatih.



Satu hal, yang membuatku mengharu biru. Ketika Indonesia Raya dinyanyikan dengan jelas dan lantang oleh semua muridku. “Akhirnya mereka hafal lagu kebangsaannya” Ujarku dalam hati.



Kibar merah putih pagi itu menyatukan kami, membangunkan raksasa Siboru yang tertidur lama. Meskipun tanpa kepala sekolah dan hanya diikuti oleh satu guru, kibaran sang merah putih disaksikan oleh komite sekolah dan masyarakat sekitar yang dengan bangga menyaksikan anak mereka memperingati ulang tahun bangsanya.



Bahkan mereka semua (ketua komite sekolah, masyarakat dan pemuda kampung setempat) membantuku dan pak Samori mengadakan lomba untuk anak-anak. Ada lomba makan kerupuk, lomba kelereng, memasukan paku di botol dan lomba sepak bola joget.



“Anak Indonesia…merdeka..merdeka!!” murid-murid YPK Siboru tak henti meneriakan yel itu sambil mengibarkan merah putih berbatang lidi di tangan mereka. Tawa dan semangat anak-anakku menjembatani bersatunya warga kampung (siswa, guru, komite sekolah, pemuda dan masyarakat sekitar) untuk memperingati ulang tahun negri ini. Satu hadiah ulang tahun untuk Indonesiaku: Di bawah kibar merah putihmu, kami bersatu.



Dan saat melihat foto-foto ini, semua letih dan lelahku terbayar lunas.

Note: special thanks for Tht

Monday, August 01, 2011

Seindah novel dunia (Siboru-Fakfak, Papua Barat)




Pernahkah kalian membayangkan kota Forks tempat bella dan Edward Cullen memulai petualangan cinta mereka? sebuah kota yang selalu mendung, cuaca dingin berembun dan hujan senantiasa menyapa setiap hari.

Yup, seperti itulah gambaran Siboru kala musim penghujan menyapanya (musim Timor).


Desa kecil yang merupakan bagian dari kecamatan Fakfak Barat ini memiliki curah hujan cukup tinggi. Meskipun sudah satu bulan aku di sini, tapi tak pernah kusaksikan bulat matahari yang terbit maupun tenggelam. Sang bintang yang amat panas itu selalu tersembunyi oleh tebalnya awan, akan tetapi kau tetap bisa melihat pendaran cahayanya dari balik gumpalan mega mendung itu.



Siboru merupan sebuah tanjung yang merupakan bagian dari kota Fakfak – Papua Barat. Sebenarnya lebih cocok bila disebut pulau, karena satu-satunya penghubung antara Siboru dengan kota Fakfak hanyalah sebuah jalan selebar 10 meter, yang saat ini semakin mengecil dan blm bisa dilalui oleh kendaraan umum. Ruas jalan itu dikelilingi laut sehingga sangat mungkin terjadi abrasi/erosi yg dapat menyebabkan jalan itu terputus, sehingga Siboru menjadi sebuah pulau.





Secara statistic di Siboru terdaftar 82 keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 360 orang. Hampir semua penduduknya bersaudara satu sama lain, mayoritas beragama Kristen, hanya terdapat satu Gereja, satu sekolah dengan beragam suku bangsa. Uniknya di Siboru terdapat kebiasaan untuk memanggil orang dengan nama daerah asalnya. Misalnya Novita dari Ambon maka orang-orang memanggilnya ambon. Ada yang dipanggil Toraja, Bugis, Kei, Biak, Sorong dan untungnya aku tidak dipanggil Jakarta, tetapi dipanggil Kakak Ibu atau mama ibu. Di Siboru hanya guru saja yang dipanggil dengn sebutan ibu atau pak guru.





Sekolah tunggal di sini bernama YPK Siboru, dengan jumlah guru aktif 4 orang (termasuk pengajar muda) maka dari itu perlu keterampilan membelah diri dan multitasking sehingga dapat mengajar secara pararel :P. Meskipun jumlah guru minim, tetapi kebanyakan orang tua di sini telah memiliki kesadaran untuk menyekolahkan anaknya.

Tanah Siboru merupakan tanah kapur yang tidak terlalu subur untuk ditanam dan system airnya menggunakan tadah hujan. Kami menggunakan air hujan untuk minum, mencuci, MCK dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Mayoritas penduduknya bermatapencaharian berkebun. Untuk ke kebun, mereka harus menggunakan perahu karena kebun berada di pulau-pulau sekeliling Siboru.





Salah satu keindahan Siboru, Ia dikelilingi oleh pulau-pulau perawan yang cantik dan menawan. Saya pernah satu kali ke pulau Ega, salah satu pulau terdekat dari Siboru. Pulau Ega berteraskan batu putih bulat, memiliki tiang-tiang pohon kelapa sebagai hiasannya dan hutan perawan di baliknya. Benar-benar seperti film cast away dengan puluhan agas (nyamuk kecil) yg siap menyerang bila kau berani mengusik hutan mereka.





Saat pergi ke pulau Ega, saya dan keluarga Siboru-ku mencari ikan dan siput, membakarnya dan langsung menyantapnya. Hm….. walau tanpa garam dan bumbu-bumbu, ikan dan siput bakar rasanya enak sekaliiii….. acara piknik kami sore ini diakhiri dengan memunguti kelapa tua yang jatuh di tanah. Kami membawa sampai 12 buah kelapa tua yang siap dibuat santan di rumah.





Saat senja menyapa, Siboru memancarkan warnanya yang berwarnajingga keunguan. Awalnya aku cukup kecewa karena tidak bisa menikmati sunset dengan latar laut tanpa batas yang terhampar tak jauh dari kamarku ini. Namun, desa kecil ini selalu memberikan kejutan keindahan padaku.





Suatu sore aku disajikan proses terbitnya bulan penuh (bulan purnama). Purnama di Siboru amat indah, ia muncul ketika hari masih terang ketika langit masih biru kemerahan dan bentuknya bulat penuh layaknya telur asin. Saat gelap menyelimuti tanjung ini, bulan purnama menjadi hiburan tersendiri bagiku. Aku baru merasakan indahnya purnama dan sangat berartinya terang bulan karena aku diselimuti kegelapan. Saat di Jakarta, bulan purnama terasa terasa biasa saja karena sinarnya tersaingi oleh lampu-lampu jalan. Namun di sini bulan nampak indah nian, cantik tak berperi. Sinarnya dinantikan masyarakat kampung, anak-anak berlari cerah di lapangan dan para pemuda duduk di luar rumah menikmati malam terang bulan.




Saat aku menatap benda langit yg cantik ini, terlintas olehku memori 50 hari lalu dimana aku dan beberapa pengajar muda menyanyikan sebuah lagu:

Jadilah terang jangan di tempat yg terang,

Jadilah terang di tempat yg gelap

Jadilah jawaban jangan hanya kau diam

Jadilah jawaban di luar rumahmu



Jadilah garam, jangan di tengah lautan.

Jadilah jawaban jangan hanya ucapan

Jadilah jawaban jangan tambahkan beban

Monday, May 23, 2011

RINDAM JAYA #pelatihanPM2

Sepenggal kisah dari pelatihan pengajar Muda Indonesia Mengajar.
Gerakan mengisi kekurangan tenaga pengajar di pelosok2 di sebut Gerakan Indonesia Mengajar.

Para peserta Indonesia Mengajar disebut dengan Pengajar Muda atau PM. Saya mengikuti gelombang ke dua Gerakan ini, maka sering pula dipanggil sebagai PM 2.

Banyak sekali kisah lucu, haru dan inspiratif selama mengikuti pelatihan di Indonesia Mengajar. Salah satu kisah yang paling gue ingat adalah saat kami mengikuti pelatihan militer di Rindam Jaya. Di tempat ini, kami diajarkan tentang kedisiplinan, kekompakan, toleransi, keberanian dan ketahanan tubuh.

Hari pertama kedatangan kami di sana, kami disambut oleh wajah-wajah ramah para pelatih. Kami menjalani medical check up yang bertujuan untuk memeriksa apakah kondisi tubuh kami cukup sehat untuk di”siksa”. Setiap PM tidur di Barak, barak putri berisikan 43 orang wanita sedangkan barak putra dihuni oleh 30 PM pria. Setiap barak memiliki 2 kamar mandi besar yang digunakan bersama. Agak illfeel dengan wc-nya. Karena berkerak hitam dan kotor tak terawat. Tapi apalah daya, kami memang sedang belajar untuk bisa beradaptasi dengan semua kondisi jadi terima saja dengan lapang dada.

Wajah para pelatih yang ramah, berubah 180 derajat setelah upaca pembukaan dimulai, karena sejak saat itulah kami resmi menjadi murid mereka. Setiap kali makan, kami hanya diberi waktu 3 menit untuk menghabiskan makanan kami dan WAJIB habis!!!!!
Pada awal pertama kali kami makan malam di Rindam, beberapa PM mengambil makanan dalam porsi besar karena sudah seharian kami lelah serta tak ada lagi cadangan makanan yang bisa kami makan nantinya. Begitu pluit dibunyikan kami harus mulai makan danhanya diberi waktu 3 menit untuk menghabiskan makanan kami atau kami akan dapat hukuman. Panik melanda kami semua, bahkan nasi yang kumakan tak sempat lagi dikunyah. Setelah masuk ke dalam mulut, langsung ditelan dengan bantuan air. Selesai menghabiskan jatahku, aku harus membantu beberapa PM untuk menghabiskan makanannya sebelum waktu makan habis. Rasa tercekik dan takut membilur di setiap kami. Berawal dari situlah kami belajar banyak hal: belajar untuk tidak serakah, belajar untuk bahu membahu & saling membantu, belajar menghargai waktu dan menghargai setiap nikmat yang kami miliki.

Hal lain yang paling berkesan adalah waktu mandi. Setelah seharian berkeringat, bermandi lumpur atau apapun kegiatan yang kami miliki, kami hanya memiliki 15 menit untuk mandi dan berganti pakaian. 15 menit untuk 43 wanita dengan 2 kamar mandi yang cukup besar tanpa sekat. Hahaha, kejadian mandi ini menjadi peristiwa paling chaos.

Satu kamar mandi berukuran 4 X 2 meter itu dapat diisi 10-15 PM. Kami bahkan sudah tak perduli lagi bertelanjang satu sama lain. Keadaan kamar mandi sangat kacau. Kacau bergiliran memakai gayung, setiap kali mandi selalu ada baju yang jatuh dan basah (berharap saja, itu bukan milikmu). Maklumlah gantungan baju di kamar mandi itu hanya sebuah pipa pendek tempat semua pm menggantungkan handuk dan pakaian dalamnya. Selama kami mandi, tak henti ketokan pintu dari PM lainnya yg menunggu giliran mandi, dengan badan setengah kering (dan mungkin juga setengah bersih) kami harus bergegas menggunakan baju PDL (pakaian tentara lengkap denagn sepatunya yang keras dan berat). Hihihi geli perutku bila teringat hal itu....

Banyak hal lain yang kami lalui, termasuk latihan turun tebing, jalan satu tali, caraka malam, PBB, merayap melewati padang rumput, berlari, upacara bendera, team building dan kegiatan lainnya. Namun semuanya itu mengajarkan kami nilai-nilai kedisiplinan, kekompakan, toleransi, keberanian, saling menghargai dan ketahanan.
Nilai nilai inilah yang akan menjadi modal dasar kami untuk hidup dan mengajar di daerah pedalaman.

Disiplin dan ketahanan fisik mengajarkan kami untuk teguh menjalani tugas kami walau tidak ada pengawas dan minim fasilitas nantinya. Toleransi dan rasa menghargai membantu kami untuk dapat berinteraksi dengan baik dengan masyarakat sekitar, dimana kami bukan sekedar mengajar tapi juga membawa perubahan paradigma pada masyarakat akan pentingnya pendidikan. Kekompakan akan menjadi obat penawar rindu dan pemberi harapan, pengingat bahwa saya tidak sendiri, ada 72 orang lainnya yang juga melakukan hal yang sama, mengajar INDONESIA.

Saturday, April 02, 2011

Petualangan baru bersama Indonesia Mengajar!!

Hii semua, setelah dipikirkan masak-masak saya akan tetap melanjutkan blog ini. Beberapa bulan lalu sempat berpikir untuk pindah blog karena saya tidak ingin mencampuradukan blog saya, yang 80% tulisannya menceritakan kehidupan saya dengan urusan pekerjaan. Namun, akhirnya saya meyakinkan diri bahwa blog ini merupakan bagian dari kisah hidup saya, penggalan kisah yang dapat mengingatkan saya tentang berbagai hal yang pernah saya lalui. Maka, akan lebih baik bila saya secara konsisten melanjutkan menulis di blog ini, selain sebagai record diri, berharap ada tulisan yang dapat menginspirasi org lain.

YUU kita mulai kisah baru ini:

HIdup disebut berwarna karena kita selalu dihapkan oleh banyak pilihan, misalnya mau beli pakaian, banyak pilihan department store maupun pasar tradisional. Setelah lulus SMA, kita dihadapkan pada pilihan mau kuliah atau kerja atau berwirausaha, dll. Banyak sekali opsi yang ditawarkan pada kita.

Namun, hidup menjadi berarti karena dari sekian banyak pilihan tersebut kita tidak dapat memiliki semuanya. Dengan kata lain, HIDUP MENJADI BERARTI KARENA KITA MEMPUNYAI BATASAN UNTUK MEMILIH. Hal inilah yang membuat kita semakin menghargai keputusan yang kita buat dalam hidup. Semakin menghargai dan bertanggung jawab atas putusn yang telah kita buat.

Begitupun dengan kehidupan karir saya, saya dihadapkan pada banyak pilihan dan saya memilih untuk mengikuti kata hati saya. Saya memutuskan untuk berpartisipasi pada program INDONESIA MENGAJAR dan dengan bangga menerima pinangan mereka untuk menjadi PENGAJAR MUDA di pelosok Indonesia.

Saya tahu konsekwensi yang akan saya terima:
1. Saya akan di tempatkan di pelosok Indonesia (remote village) yang belum memiliki aliran listrik dan signal handphone. Dimana akses komunikasi, kesehatan dan hiburan sangat minim.

2. Saya akan mengalami penurunan pendapatan yang cukup berarti karena saat ini saya bekerja di perusahaan humas berskala multinasional dengan pendapatan cukup baik.

3. Saya akan jauh dari orang tua, keluarga dan teman, serta melewatkan berbagai moment-moment berharga dengan mereka. Hal ini karena saya hanya dapat bertemu mereka/ plg ke rumah 1 kali dalam setahun

4. Beragam fasilitas tidak akan saya temui di desa terpencil dan adanya bahaya epidemi penyakit, mengingat sanitasi dan fasilitas ksehatan yang cukup sulit.

Namun inilah pilihan hidup saya, saya senang sekali dapat berkontribusi untuk bangsa Ini (I’m proud to be Indonesian) dengan memberikan pemerataan pendidikan bagi anak-anak Indonesia di daerah pelosok. Pernahkan terpikir bahwa tak satupun dari kita bisa memilih dilahirkan dimana, dengan keluarga seperti apa, dengan kondisi ekonomi bagaimana? Dan kebetulan mereka lahir di daerah pelosok yang sulit dijangkau sehingga dengan sendirinya kesempatan mendapatkan pemerataan pendidikan menjadi lebih sulit.

Ketika saya, yang mungkin sedikit lebih beruntung dari mereka diberi kesempatan untuk berbagi, dengan senang hati dan penuh syukur saya menyambutnya. Saya ingin mereka juga mendapatkan pendidikan yang setara sehingga di masa mendatang dapat berkompetisi dengan anak-anak kota lainnya. Saya yakin, seyakin-yakinnya mereka juga memiliki potensi yang luar biasa. They just need an opportunity.

Saya yakin program ini akan memberikan pengalaman luar biasaaaa yg mungkin tidak dapat saya tebus dengan uang. Sebuah petualangan baru bersama orang-orang luar biasa pula.. I’m so excited.



Inilah pilihan hidup saya, bila nanti saya harus memulai karir saya dari awal, saya tidak keberatan. Saya menganggap semua itu sebagi bagian dari hidup dan biarlah berjalan sebagaimana mestinya.

Mari terus bersyukur dan semangat dalam menjalaninya karena hidup adalah perjuangan dan proses belajar tiada henti.

www.indonesiamengajar.org
http://www.facebook.com/pages/Indonesia-Mengajar/124834754208909?sk=wall

Sunday, January 09, 2011

Pindah Blog

Rasanya aku ingin pindah blog...
memulai sesuatu yg baru...
I'll tell u soon


happy new year
regards,
Ika